ihei

Bergabunglah dengan 107 pengikut lainnya

Mau Boneka Kreatif

Rekan Kami

Kalender

November 2017
S S R K J S M
« Sep    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Kategori

MISTERI DIBALIK USIA 40 TAHUN

Image result for 40 tahun

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa Al-Qur’an membahas mengenai usia 40 tahun. Hal ini sebagai pertanda bahwa ada hal yang perlu diperhatikan dengan serius pada pembahasan usia 40 tahun ini. Allah Ta’ala berfirman, “Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Al-Ahqaf : 15)

Usia 40 tahun disebutkan dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang sebenar-benarnya. Do’a yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahun atau lebih. Di dalamnya terkandung penjelasan yang jelas bahwa mereka telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmonis, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala.

Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman: “Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37)
Para ulama salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “umur panjang dalam masa yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut adalah ketika berusia 40 tahun.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh. Apabila hal itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janji-Nya dalam ayat setelahnya, yaitu kematangan. Usia 40 tahun adalah usia matang bagi kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak heran tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi kita tercinta, Muhammad SAW pun demikian. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, “Diutusnya Rasulullah (yaitu) pada usia 40 tahun.” (HR. Al-Bukhari).

Nabi Muhammad SAW diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, kecuali Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Mayoritas negara juga mensyaratkan bagi calon-calon yang akan menduduki jabatan-jabatan elit seperti ketua negara, harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat pun mengakui bahwa matangnya prestasi seseorang tatkala orang tersebut telah berusia 40 tahun.

Mengapa umur 40 tahun begitu penting?
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) periode, yaitu:
(1) Anak-anak (aulad); sejak lahir hingga akil baligh,
(2) Pemuda (syabab); sejak akil baligh hingga 40 tahun,
(3) Dewasa (kuhul); 40 tahun hingga 60 tahun,
(4) Tua (syuyukh); 60 tahun ke atas.

Usia 40 tahun adalah usia ketika
manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih kepada masa dewasa sempurna. Kenyataan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agamanya yang semasa mudanya jauh sekali dengan agamanya. Baik dengan menjalankan kewajiban shalat lima waktunya dengan berjama’ah dan tepat waktu, memperbanyak sedekah, menutupi auratnya, atau dengan mengikuti kajian-kajian keagamaan. Seolah-olah di usia ini merupakan momentum kembalinya manusia kepada fitrahnya. Namun jika ada orang yang telah mencapai usia ini, akan tetapi tidak ada minat terhadap agamanya, maka hal ini sebagai pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia.Wal iyaadzu billaah.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Seorang hamba muslim apabila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya).” (HR. Ahmad)

Hadits ini menyebutkan bahwa usia 40 tahun merupakan titik awal seseorang memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah Ta’ala, sekaligus konsisten terhadap Islam, sehingga Allah Ta’ala pun akan meringankan hisabnya. Inilah keistimewaan orang yang mencapai usia 40 tahun. Akan tetapi, usia 40 tahun merupakan saat di mana orang harus berhati-hati juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk waktu senja.

Abdullah bin Abbas mengatakan, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak bertambah dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syari’at lazim bagiku.”

Kematian Bisa Datang Kapan Saja

Satu perkara yang kita harus senantiasa kita sadari bahwa kematian bisa memanggil kita kapan saja tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk mulai memperbaiki diri, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika ternyata umur kita tidak panjang.

Maka dari itu, di sisa-sisa usia kita ini, marilah kita mulai berbenah diri, meneguhkan tujuan hidup, meningkatkan daya spiritual, memperbanyak bersyukur, menjaga makan dan tidur, serta menjaga keistiqamahan dan berusaha meningkatkan kualitas dalam beribadah.

Banyak manusia yang tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. Mengingati mati bukan berarti kita akan gagal di dunia ini. Akan tetapi dengan mengingati mati kita berharap menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat kelak. Janganlah menunggu hingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, karena mati boleh datang kapan saja.

Akhirnya, semoga kita bisa memaksimalkan sisa-sisa umur kita ini untuk memperbanyak amal shaleh.

Iklan

DIBENTAK ANAK ITU LEBIH SAKIT DARI PADA SAAT MELAHIRKANNYA

Image result for ibu siluet
.
“IBU, masakin air..Bu. Aku mau mandi pakai air hangat,” seorang anak meminta Ibunya menyiapkan air hangat untuk mandinya.

Sang Ibu dengan ikhlas melaksanakan apa yang diperintah oleh sang anak.

Dengan suara lembut Ibunya menyahut,
“Iya, tunggu sebentar ya, sayang !”

“Jangan terlalu lama ya Bu ! Soalnya saya ada janji sama teman,” ujar sang anak.

Tidak lama kemudian sang Ibu telah usai menyiapkan air hangat untuk buah hatinya.

“Nak, air hangatnya sudah siap,” Ibu itu memberi tahu.

“Lama sekali sih, Bu…” sang anak sedikit membentak.

Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi, sang anak berpamitan kepada Ibunya,
.
“Bu, saya keluar dulu ya, mau jalan-jalan sama teman.”

“Mau kemana Nak ?” tanya sang Ibu.

“Kan sudah aku bilang, saya mau keluar jalan-jalan sama teman,” kata sang anak sambil mengerutkan dahi.

Malam harinya, sang anak pulang dari jalan-jalan, sesampainya di rumah ia merasa kesal karena Ibunya tidak ada di rumah. Padahal perutnya sangat lapar, di meja makan tidak ada makanan apa pun.

Beberapa saat kemudian, Ibunya datang sambil mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum… Nak, kamu sudah pulang ? Sudah dari tadi ?”

“Hah, Ibu dari mana saja. Saya ini lapar, mau makan tidak ada makanan di meja makan. Seharusnya kalau Ibu mau keluar itu masak dulu…” kata si anak membentak dengan suara sangat lantang.

Sang Ibu mencoba menjelaskan sambil memegang tangan anaknya,
“Begini sayang, kamu jangan marah dulu. Ibu tadi keluar bukan untuk urusan yang tidak penting, kamu belum tahukan kalau istrinya Pak Rahman meninggal ?”
.
“Meninggal ? Padahal tidak sakit apa- apa kan, Bu ?” sang anak sedikit kaget, nada suaranya juga tidak tinggi lagi.

“Dia meninggal waktu Maghrib tadi. Dia meninggal saat melahirkan anaknya. Kamu juga harus tahu nak, seorang Ibu itu bertaruh nyawa saat melahirkan anaknya,” Ibu memberikan penjelasan.

Hati sang anak mulai terketuk, dengan suara lirih ia bertanya pada Ibunya,
“Itu artinya, Ibu saat melahirkanku juga begitu ? Ibu juga merasakan sakit yang luar biasa juga ?”

“Iya anakku. Saat itu Ibu harus berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun, ada yang lebih sakit daripada sekadar melahirkanmu, Nak.” sang Ibu menjawab.

“Apa itu, Bu ?” sang anak ingin mengerti apa yang melebihi rasa sakit Ibunya saat melahirkan dia.

Sang Ibu tak mampu menahan air mata yang mengalir dari setiap sudut matanya seraya berkata,
“Rasa sakit saat Ibu melahirkanmu itu tak seberapa, bila dibandingkan dengan rasa sakit yang Ibu rasakan saat dirimu membentak Ibu dengan suara lantang, saat itu kau menyakiti hati Ibu, Nak !”

Si anak langsung menangis dan memohon ampun atas apa yang telah diperbuat selama ini pada Ibunya.

Masih beranikah Kalian membentak Ibu kalian yang telah mempertaruhkan hidup matinya melahirkan Kalian…???

8 PESAN UNTUK PARA SUAMI

Image result for suami siluet

1. Hargai isterimu sebagaimana engkau
menghargai ibumu, sebab isterimu juga
seorang ibu dari anak-anakmu.
2. Jika marah, boleh tidak berbicara
dengan isterimu, tapi jangan
bertengkar dengannya
(membentaknya, mengatainya,
memukulnya).
3. Kantung rumah adalah seorang
isteri, jika hati isterimu tidak bahagia,
maka seisi rumah akan tampak seperti
neraka (tidak ada canda tawa, manja,
perhatian),maka sayangi isterimu agar
dia bahagia dan kau akan merasa
seperti disurga.
4. Besar atau kecil gajimu, seorang
isteri tetap ingin diperhatikan. dengan
begitu, maka isterimu akan selalu
menyambutmu pulang dengan kasih
sayang.
5. 2 orang yang tinggal 1 atap
(menikah) tidak perlu gengsi,
bertingkah, siapa menang siapa kalah.
karena keduanya bukan untuk
bertanding melainkan teman hidup
selamanya.
6. Di luar banyak wanita idaman
melebihi isterimu, namun mereka
mencintaimu atas dasar apa yang kamu
punya sekarang, bukan apa adanya
dirimu, saat kamu menemukan masa
sulit, maka wanita tersebut akan
meninggalkanmu dan punya pria
idaman lain dibelakangmu.
7. Banyak isteri yang baik, tapi diluar
sana banyak pria yang ingin
mempunyai isteri yang baik dan mereka
tidak mendapatkannya. mereka akan
menawarkan perlindungan terhadap
isterimu,maka jangan biarkan isterimu
meninggalkan rumah karena
kesedihan, sebab ia akan sulit sekali
untuk kembali.
8. Ajarkan anak laki-lakimu bagaimana
berlaku terhadap ibunya, sehingga
kelak mereka tahu bagaimana
memperlakukan isterinya.
Silahkan Klik SUKA & BAGIKAN jika
menurut anda bermanfaat..
Semoga yang mengucapkan amin mendapat jodoh yang di ridhai Allah SWT

WASPADALAH !!! TERBONSAINYA INSTING BELAJAR SEORANG ANAK

Image result for ayah edy

Suatu ketika ada orang tua bertanya pada saya, Ayah anak-anaknya di home schooling kok sepertinya lebih banyak bermain dari pada belajarnya.

Sebelum menjawab saya sempat berpikir, wah… rupanya ibu ini mendefinisikan belajar adalah dengan duduk di meja, menyendiri, serius, bersama buku, dan ballpoint dengan tulis menulis dan hitung menghitung sebagai kegiatan utamanya.

Padahal jika kita tahu biografi Einstein bersama anak-anaknya, Einstein sering mengajaknya belajar sambil bermain-main di mana saja, meluncur di anak tangga lalu dia bertanya mengapa telapak tangan kita terasa panas saat turun dan bergesekan dengan gagang tangga?, lalu suatu hari ia sedang belajar memasak tiba2 menjatuhkan telur ke lantai dan bertanya mengapa dia jatuh ke lantai dan tidak mengapung di udara, suatu ketika lagi di tepi danau Einstein bertanya mengapa saat kita naik perahu bertiga mendayung terasa jauh lebih berat dari pada jika kita naik sendiri, lalu ketika tiba-tiba bertiup angin ia bertanya lagi apa itu angin, terbuat dari apa dan mengapa ia bisa bertiup dan sebagainya.

Jika ingat bagaimana sang jenius dunia mengajari anaknya sy jadi tertawa sendiri dan merasa malu, karena jika anak-anak saya mengajak bermain semisal bermain layang-layang saya sering berkata ah kurang tertarik, lalu anak sy bertanya mengapa tidak tertarik, itukan asyik ! Lalu satu ketika anak sy mengajak lagi bermain balon dari sabun saya juga kurang antusias. Padahal Einstein jika sudah bermain sama anak-anaknya maka ia langsung berubah bak seorang anak yang sedang bermain dengan teman sebayanya.

Apakah ayah bunda juga pernah mengalaminya ? kita tidak lagi antusias seperti anak-anak dalam bermain dan sudah menjadi mahluk yang super serius dan tidak lagi punya “sense of fun” ?

Setelah saya merenung lama, baru saya ingat, rupanya kemampuan otak saya dan insting bermain sambil belajar saya sudah TERBONSAI HABIS dengan sistem sekolah kita yang mengharuskan kita belajar dengan cara “Duduk siap”, “Lipat tangan di atas meja”, “Keluarkan buku tulis”, “Kerjakan Tugas”, kemudian gurunya pergi entah kemana dan saat kembali bilang “Ya ! waktunya sudah habis dan selesai atau tidak selesai segera di kumpulkan”.

Dan itu tidak hanya terjadi sekali saja, tapi berkali-kali dan berulang-ulang di sepanjang SD hingga SMP, SMA dan bahkan terjadi juga saat saya kuliah.

Sambil merenung saya kembali teringat ajakan-ajakan anak saya, dan dalam batin berkata “Maafkan Ayah ya nak, ayahmu sudah kehilangan semua kemampuan alaminya untuk menjadikan permainan sebagai pembelajaran dan belajar sambil bermain.

Sahabatku, meskipun sudah sadar-sesadarnya tentang masa lalu saya dan berusaha untuk berubah untuk lebih antusias bermain bersama kedua putera kami, tapi masih saja sering kali anak saya berkata, kenapa sih ayah sama bunda gak suka bermain, kan asyik kalo kita bisa main sama-sama. Duh padahal saat ini saya harus menjadi guru bagi anak-anak, tapi sy janji dan terus berusaha agar ini tidak di alami lagi oleh generasi selanjutnya. Cukup sampai di saya saja.

Keluarga Indonesia padahal faktanya banyak sekali temuan besar dunia itu sering kali di lakukan bukan di meja penelitian melainkan di tempat-tempat yg tak terduga, sebagaimana seorang Benjamin Franklin menemukan penangkal listrik, saat ia bermain layang-layang dan tangannya merasakan aliran listrik yang bersumber dari kilatan-kilatan petir di udara rintik-rintik hujan saat ia bermain.

Begitupun dengan sang Sutradara besar film Jurassic Park, Transformer dll, yg ketika ditanya Wartawan,

“Tuan Steve, Pelajaran apa yang dulu anda sukai semasa sekolah, yang telah menjadikan anda sebagai seorang Sutradar Besar Dunia?”

Steven Spielberg pun menjawab,

“Saya tidak tahu ya pelajaran apa yg saya sukai saat dulu bersekolah, tapi seingat saya dulu saya paling suka jika Bell Istirahat sekolah sudah berbunyi, dan sy bisa segera lompat dari kursi dan lari keluar kelas untuk bermain-main di semak dan kebun sambil membuat film dari handy cam yg saya pinjam dari Ayah saya”.

** kisah ini di oleh dari berbagai sumber Biografi Einstein, Benjamin Franklin dan Steven Spielberg.

Ditulis oleh
Ayah Edy untuk para orang tua dan guru Indonesia

Pernikahan Ideal Gerbang Awal Menuju HE

Image result for Adriano Rusfi
👤 Ust. Adriano Rusfi

——————————————————-

“Hai Anak Muda, menikahlah sebelum mapan. Agar anak Anda dibesarkan bersama kesulitan-kesulitan Anda. Agar Anda dan anak-anak Anda kenyang merasakan betapa ajaibnya kekuasaan Allah. Jangan sampai Anda meninggalkan anak Anda yang tak paham bahwa hidup adalah perjuangan.” (Ust.Adriano Rusfi)

Waktu berjalan cepat, kehidupan menuntut manusia untuk lebih cepat tanggap terhadap keadaan. Salah satu keadaan yang paling urgen adalah kedewasaan mental.

Salah satu bukti bahwa seseorang sudah dewasa secara mental adalah ketika seseorang sudah mampu mencukupi dirinya sendiri, bertanggung jawab dan sadar dengan apa yang dilakukannya. Keberanian untuk mengambil resiko kiranya menjadi mutiara yang berharga di tengah arus global yang sarat memanjakan harapan.

Kedewasaan mental tak diukur dari menjamurnya umur, namun diukur dari seberapa besar kemampuan untuk mengatur sebuah persoalan menjadi tantangan. Ya, masalah harus dihadapi dan tantangan harus diselesaikan. Salah satu masalah dan tantangan yang Allah taqdirkan adalah saat pria dan wanita mulai mengikat janji suci dalam gerbang pernikahan. Semua bermula saat mereka menjadi pasangan suami dan istri.

Saat telah menjadi suami dan istri, kedewasaan mental amat diperlukan. Karena hanya pasangan suami dan istri yang dewasa lah, yang tidak akan takut terhadap kalkulasi-kalkulasi dunia yang menggelembung seakan tak bisa dijangkau. Justru di tengah keterbatasan itulah terdapat beribu kebahagiaan bagi orang yang tak pernah putus asa. Sebab pahala kesabaran adalah pahala yang tidak ada ukurannya.

Di Indonesia, kaum adam mestinya lebih bersyukur karena bila mental sudah matang dapat lebih mudah melangkah ke jenjang pernikahan. Di negeri ini, kaum hawa tak banyak menuntut mahar yang mewah, tidak seperti di negara-negara lain. Di negara-negara tertentu, mungkin Anda akan menjumpai betapa mahar yang perlu dihadiahkan sangat besar sehingga tak jarang dari mereka menikah setelah berumur 30an.

Kini, Anda dapat selangkah lebih maju menjalani kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan yang dalam istilah Rosul adalah setengah dari agama. Kehidupan sarat berbagai pahala besar yang diidentikkan sebagai bagian dari ibadah terindah bagi anak manusia.

🎯 Alasan pentingnya pernikahan menjadi gerbang Pendidikan Fitrah:

1. Keluarga dibangun di Atas Mimpi-Mimpi Besar
Bagi laki laki, menikah tidak cukup mengandalkan ketampanan. Lebih dari itu, seorang laki laki yang kedepannya menjadi seorang ayah harus mempunyai tanggung jawab yang matang. Tanggung jawab itulah kekayaan terbesar dalam sebuah rumah tangga. Sebuah rumah tangga akan berjalan sebagaimana mestinya bila kedua pasangan dapat memahami tanggung jawab dan peranannya masing-masing.

Selain itu, juga akan mengantarkan pasangan suami istri untuk lebih fokus ke arah cita-cita besar. Bukan berpikir bagaimana yang penting bisa makan, namun berpikir bagaimana bisa memberi makan orang lain (anak). Rumah tangga baru seperti inilah rumah tangga yang masih dipayungi semangat idealisme. Lambat laun pasti akan menemukan jalan kebijaksanaan dalam beridealisme.

Keluarga yang dibangun dengan mimpi-mimpi besar adalah keluarga yang berperan bagi terbangunnya batu bata peradaban melalui pendidikan keluarga yang visioner, bertujuan dan strategis

2. Mendidik Anak Lebih Baik dari Orang Tuanya
Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya lebih baik dari dirinya. Melalui berbagai kegagalan ayahnya di masa muda, juga kebersamaan dalam menjalani rumah tangga dari nol justru akan menguatkan sebuah ikatan bahtera rumah tangga.

Nah, dari masalah-masalah yang timbul itulah sebuah keluarga akan menjadi kuat bila dihiasi dengan kesabaran yang terbaik. Dengan demikian, nasehat seorang ayah bukan hanya di bibir, namun dari hati seperti nasehat bijak seorang Lukman.

Pasangan yang menikah dengan niat baik, akan mendidik anaknya mencapai prestasi yang dituju. Belajar dari masa muda masing masing, pasangan suami istri akan mengajarkan kepada anaknya bahwa kesalahan itu sebuah resiko yang merupakan proses menuju tangga kebenaran.

Dengan kata lain, anak yang dilahirkan pasangan suami istri yang baik, tidak akan takut mencoba hal-hal baru. Justru hal-hal baru tersebut akan terus memacu anak untuk menemukan dan terus mencari sendiri kebenaran hakiki.

3. Hidup adalah Kerja Keras
Dengan segenap keterbatasan, pasangan suami istri akan memberikan pelajaran kepada anaknya bahwa hidup adalah perjuangan penuh kerja keras. Di dalam kehidupan, orang yang mempunyai bakat tidak akan berhasil tanpa adanya kerja keras. Karena kerja keraslah penentu keberhasilan seseorang. Tuhan hanya melihat kerja keras manusia, kesungguhan untuk meraih segala cita-cita.

Begitu pula di dalam rumah tangga, terlalu memanjakan anak dengan mudah memenuhi segala kebutuhan berakibat menghambat potensi anak. Selain itu, akan berbahaya juga bagi masa depannya karena hidup yang diketahui sebatas ingin dan segera terpenuhi. Terlebih, jangan sampai anak kita nanti tidak tahu bahwa hidup sebenarnya adalah penuh kerja keras.

4. Life is Begin at Fourty
Hidup yang sebenarnya adalah hidup ketika menginjak umur 40 tahun. Usia 40 tahun adalah usia matang dan menjadi usia yang harus sudah mapan. Mapan di sini dapat diartikan sebagai kemapaman psikologis dan kemapanan materi.

Kemapanan psikologi dapat berupa kesempurnaan akhlak dan moral menuju masa depan yang sebenarnya. Sedangkan mapan secara materi, seseorang yang telah berumur 40 tahun sudah tidak lagi memikirkan hal-hal bersifat materi duniawi.

Sebuah rumah tangga yang memapankan dirinya di usia 40 tahun akan memiliki nafas perjuangan yang lebih panjang hingga akhir hayat. Karena tubuh, jiwa dan ruhani yang masih sangat bugar.

Jangan biarkan waktu kalian dimasa lajang berlalu begitu saja tanpa adanya percobaan hal-hal yang baru. Habiskanlah rasa penasaran, kegagalan dan seluruh kematangan rencana anda di masa lajang. Jangan sampai ketika masa berumah tangga anda menghampiri, anda baru sadar akan keinginan-keinginan dan ambisi Anda. Umur 40 adalah umur terbebasnya dari segala keinginan.

 

5. Menikah Usia Muda Solusi Kehidupan
Menikah di usia muda juga akan membantu Anda menyelesaikan urusan-urusan dunia. Sebagaimana dalam Al Quran, bahwa menikah bukan hanya dicukupkan, namun Allah memberikan janji akan mengkayakan bagi setiap hambanya yang beriman.

Menikah muda merupakan solusi agar ketika Anda berumur usia lanjut, sudah tidak memikirkan biaya kehidupan seperti biaya listrik, sekolah anak dan biaya-biaya lainnya. Biarlah anak Anda nantinya yang akan menjaga Anda menikmati masa-masa penuh kebahagiaan.

Menikah di usia muda akan melahirkan keluarga yang mendidik anak-anaknya dengan sejuta idealisme yang masih membuncah, dan diserap oleh anak-anak yang lahir dengan kualitas genetik kelas wahid dari rahim yang masih fresh.

6. Dunia Butuh Anda
Setelah melewati liku-liku perjalanan pernikahan di usia muda, akan tiba saatnya segala kebutuhan Anda terpenuhi. Kini, kesibukan Anda hanya ingin membantu dan membantu sesama manusia mewujudkan predikat manusia terbaik paling bermanfaat bagi sesama.

Kenanglah, bahwa peran Anda sangat dibutuhkan dunia. Sudah tiba saatnya Anda membangun apa yang dibutuhkan dunia, berkontribusi dan turut menyumbang secuil peradaban. Wariskanlah kepada anak cucu Anda nanti bahwa Anda dulu dikenal sebagai orangtua yang hebat!

Lalu, bagi anda yang masih menanti, tunggu apalagi untuk menuju singgasana raja sehari? Dengan memohon keikhlasan Allah, semoga jalan Anda dipermudah.

🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂

Keterangan
1. Judul asli “MENIKAH SEBELUM MAPAN”
2. Judul dan isi telah direvisi sesuai tujuan nilai nilai HE. Serta telah direview dan mendapat izin ustad Adriano Rusfi (SME Utama HEbAT Community).

Seri Nasihat Ust. Adriano Rusfy

Image result for Adriano Rusfi

Salah satu kesalahan besar kita dalam berumah tangga adalah tetap tinggal di rumah orang tua atau mertua saat kita menikah.

Padahal seseorang yang menikah adalah orang yang harus siap mandiri termasuk mengontrak rumah sendiri, walaupun rumah yang sangat sederhana dan tanpa perabotan apapun.

Seringkali kita tidak berani memutuskan untuk pindah rumah begitu menikah, karena kemanjaan kita sendiri. Kita tidak siap dengan hidup pas-pasan, tidak siap dengan rumah sederhana, tidak siap hanya dengan satu kompor, tidak siap memompa kamar mandi setiap hari. Sehingga kita memutuskan untuk tinggal bersama orang tua atau mertua kita.

Marilah kita sadari ada setidak-tidaknya dua kerugian besar pada saat kita tetap ngotot tinggal bersama orang tua atau mertua kita :

Pertama, anak-anak kita akan dimanja oleh mereka dan itu sangat tidak baik bagi perkembangan kepribadian masa depannya

Yang kedua, terjadi intervensi yang berlebihan dari orang tua dan mertua kita tentang pola asuh dan pendidikan anak-anak kita. Pada akhirnya kita tidak pernah memiliki kemandirian dalam merumuskan visi, misi, orientasi dan strategi pendidikan anak-anak kita.

Kita tidak pernah memiliki kemandirian untuk menetapkan : Mau dibawa ke mana keluarga kita di masa depan ?

Yang berkewajiban untuk merumuskan visi, misi, dan strategi rumah tangga adalah seorang suami. Karena dia adalah kepala keluarga, karena dia adalah penanggung jawab pendidikan keluarganya, di dunia dan di akhirat

Dalam hal ini tugas seorang istri adalah memberikan masukan-masukan kepada suaminya tentang visi, misi, orientasi dan strategi yang harus dirumuskan dalam pendidikan anak dan keluarga.

Nasihat dari Ust.Adriano Rusfy

Image result for Adriano Rusfi

Sesungguhnya Allah tidak membebani seorang hamba melebihi kesanggupannya. Pada saat kita tidak bisa menjalani kehidupan secara ideal maka kita hanya diminta untuk mendekati situasi yang ideal tersebut.

Bagi yang telat menikah sehingga pada usia 40 tahun belum lepas dari kewajiban-kewajiban rumah tangga, maka sesungguhnya melaksanakan kewajiban rumah tangga, mendidik anak, membina generasi peradaban, itu jauh lebih utama daripada mengejar karir, melakukan aktivitas-aktivitas dan bakti bakti sosial sehebat apapun

Sungguh, andai waktu saya habis tersita untuk anak-anak dan keluarga sehingga saya tidak bisa terlibat dalam kegiatan sosial, memandu HEbAT dan sebagainya, saya sama sekali tidak menyesal. Karena mempersiapkan generasi peradaban adalah sebuah investasi masa depan di dunia dan di akhirat yang nilainya di sisi Allah tak dapat digantikan oleh sejuta kemaslahatan sosial sekalipun.

Dan sekali lagi, usia 40 bukanlah usia telah mapan tapi baru memulai kemapanan. Tidak perlu terlalu terburu-buru memapankan diri. Orang yang mapan terlalu cepat akan mengalami kesulitan untuk mengajari anaknya tentang perjuangan hidup. ✅

ANAK HARUS KUAT DIBULLY

Image result for bullying

(Mengajarkan anak-anak lebih siap menerima bully dan mengubahnya menjadi langkah positif)

“Anak harus kuat dibully dan bisa menghadapi dengan perkasa” ujar suami saya.

Akhirnya, itu tekad saya dan menjadi bahan ajar di Sekolah Gratis. SEBAB bully tidak mengenal pilih kasih :).

Semua anak akan mengalami bully baik secara langsung atau tidak.

Anak gemuk, akan dibully si gendut
Anak berkulit gelap, akan dibully item
Anak memiliki keterbatasan fisik, akan dihina
Anak terlalu aktif, akan tetap dibully
Ada banyak alasan terjadinya bullying.

BAHKAN, saya menemukan pengalaman yang dishare beberapa korban bully…
Terlalu cantik, dibully!
Terlalu pintar, dibully!
Terlalu agamis, dibully!

SEE, ada banyak alasan untuk dapat bully dari orang-orang di sekeliling kita.
BULLY bisa mematahkan semangat anak, jika mereka tidak dipersiapkan untuk kuat menghadapinya.

BAGAIMANA MENGAJARKAN ANAK MENERIMA BULLY dengan positif?

1. Jadilah tempat HANGAT menerima curhat anak yang dibully. Kalau mereka menangis, biarkan mereka menangis untuk melegakan hatinya.

2. Sampaikan kebenaran bahwa dunia ini tidak hanya diisi orang baik tapi juga ada orang yang “belum baik” atau jahat sehingga mereka akan menerima bentuk perlakuan dengan lebih siap

3. Edukasi bahwa mereka harus selalu positif menerima apapun apa komentar orang, misalnya pagi ini Ammar yang baru saja sembuh dari cacar bertanya, “Masuk SD nanti wajahku masih bintik-bintik hitam, malu nggak ya? kalau ada yang ngatain aku gimana?” dan saya menjawab, “Justru dengan wajah bintik-bintik kamu bisa bilang ke temenmu mengenai cacar. Katakan pada mereka bahwa cacar akan kena pada siapa saja dan kasih tahu cara mereka menghadapi cacar” Ammar mengangguk-angguk.

4. Ajarkan mereka melawan jika sudah keterlaluan bullynya, bukan dengan bersembunyi dan bersedih, “Melawan itu akan membuat mereka takut, kalau kamu menangis mereka akan semakin membully”

5. Katakan bahwa “kasihanilah yang membully karena bisa jadi mereka tidak paham bahwa bully itu tidak baik atau mungkin mereka sebenarnya lebih buruk dibandingkan kita. Tugasmu adalah melangkah terus.”

6. Buka mindset anak bahwa mereka istimewa terlepas dari kekurangan yang mereka miliki. Mereka terlahir sebagai bintang dan sampai kapanpun akan menjadi bintang.

7. Ubah bully sebagai pembuktian yang positif. Ketika seorang anak mengatakan pada saya bahwa dia dibully karena rumahnya sempit, maka saya mengatakan: “Artinya kamu harus jadi anak hebat yang kelak bisa memiliki rumah lebih besar dari sekarang!” biarkan anak memiliki tekad untuk mengubah hal negatif menjadi hal positif.

Apa yang saya share di status ini adalah pendapat saya dan yang saya ajarkan pada anak-anak. Semoga bermanfaat…
Selamat menjadi ibu yang hebat untuk mencetak anak yang kuat…

Salam untuk seluruh ibu di Indonesia,
Indari Mastuti

PARENTING NABAWIYYAH

Image result for Budi Ashari, Lc.

Oleh : Budi Ashari, Lc.

✅ Lelah mendidik anak? Itu adalah bukti bahwa anda belum menikmati proses dan hasil mendidik anak.

✅ Apakah kita bahagia setelah anak kita sukses (sarjana, dapat kerja, dll)? Itu terlalu lama. Apalagi kalau anaknya banyak.

✅ Anak-anak itu aset. Bukan beban. Anak sholeh yang bisa mendoakan orang tuanya, itu aset. Ketika kita meninggal, maka yang paling berhak mensholatkan kita adalah anak kita. Itu aset. Sholat jenazah itu isinya doa semua. Anak itu kekayaan di dunia dan akhirat.

✅ Rosululloh bersabda: “Kamu (anak lelaki) dan hartamu milik orang tuamu.”

✅ Artinya, walaupun sudah menikah, orang tua punya hak atas harta kita. Anak-anak yang kita dorong untk menghafal Al Qur’an 30 juz kelak di hari kiamat yang mendapat keistimewaan bukan hanya anak itu, tapi juga orang tuanya (mahkota).

✅ Hilangkan anggapan bahwa anak-anak itu beban. Anak-anak kita tidak numpang hidup pada kita. Numpang? Anda sombong. Bayi lahir sudah membawa rezekinya. Yang menjadi masalah adalah kita belum “percaya” pada Alloh.

✅ Tidak ingin punya anak banyak karena biaya pendidikan mahal? Logis. Tapi itu iman belum berperan. Kalau anak adalah aset, maka kita ingin punya sedikit atau banyak?

✅ Apa fungsinya sabar dan syukur kalau bukan untuk bahagia. Tawakkal. Petani itu bahagia saat tanamannya tumbuh baik, padahal belum panen. Saat hujan turun, padahal belum menanam.

✅ Jadi bahagia itu jangan tunggu panen, jangan tunggu sampai anak besar. Asal prosesnya baik. Kalau seperti ini, maka orang tua akan bahagia sepanjang usia anaknya.

✅ Ada masanya ketika orang tua panen raya. Syaratnya, hanya dengan cara Islam. Mendidik anak itu persis seperti menanam pohon. Alloh berfirman dalam QS. 3:35-37, didik anak dengan pertumbuhan yang baik.

✅ Di akhir QS. Al Fath berbicara tentang proses pertumbuhan tanaman hingga ia kokoh. Tapi dalam ayat ini Alloh tidak membahas hingga tanaman tersebut berbuah. Namun hingga tahap ini sudah menyenangkan hati penanamnya.

✅ Alloh berbicara ini (tanaman) ketika Rosul mendidik sahabat-sahabatnya. Dalam surat ini, belum panen saja Alloh sudah memberikan kebahagiaan.

✅ Anak kita yang menanam siapa? Kita. Setiap proses pertumbuhannya kita merasakan bahagia.

✅ Lalu kapan Alloh bicara buahnya? Di QS. Ibrohim: 24-25. Baiknya anak kita nanti, maka itu adalah hak Alloh. Tugas kita adalah menanamnya dengan baik. Semoga kelak Alloh mengizinkan agar hasilnya baik juga.

✅ Tapi ingat, pohon itu kan yang kita konsumsi bukan hanya buahnya. Mendidik anak juga sama. Tetapi itu dengan izin Alloh. Maka didiklah anak kita dengan maksimal. Ikuti caranya.

✅ Dalam sebuah hadits Rosululloh saw menyampaikan bahwa ada sebuah pohon. Dimana Keberkahan pohon itu seperti keberkahan seorang mukmin. Pohon apa itu? Pohon kurma.

✅ Pelajari pohon kurma untuk mendidikan anak kita. Pohon kurma itu berkah, kata Rosul. Kurma itu berbuahnya perlu waktu lama, sekitar 8 tahun. Tapi hasilnya juga sesuai dengan kesabaran kita memetik buahnya.

✅ Sama seperti pohon zaitun yang bisa menopang perekonomian Spanyol. Jika pohon ini baik, maka ia akan lebih panjang dari usia kita.

✅ Pohon ini usianya ratusan tahun. Terus berbuah. Nutrisi kurma berbeda dengan nasi. Sesuai dengan kesabaran menunggunya berbuah.

✅ Yang tumbuh pertama dari pohon kurma adalah thol/ mayang/ bakal buah, tapi perlu dikawinkan dulu. Berdasarkan hasil penelitian, mayang jantan kurma, memiliki warna, aroma, dan fungsi yang mirip seperti sperma manusia.

✅ Mayang, akan tumbuh berwarna hijau (kholal), menyenangkan dari segi pemandangan walau rasanya belum manis. Anak kita pun demikian.

✅ Susui dengan cara yang benar. Usia 3-6 tahun adalah usia yang sangat penting mendapatkan sentuhan dari orang tuanya karena sedang pandai untuk meniru.

✅ Konsep pendidikan yang paling tepat di saat itu adalah keteladanan. Memang belum manis. Tapi kalau anak berperilaku baik dan lucu akan menyenangkan.

✅ Setelah kholal kemudian akan menjadi berwarna kuning. Mulai ada sedikit rasa manisnya. Setiap fase ada warna-warna indah pada anak-anak kita.

✅ Kemudian berwarna merah (balah). Rasanya sudah mulai enak. Kalau sudah usia 7 tahun Nabi perintahkan untk sholat. Dijaga hingga 10 tahun. Evaluasi. Bacaannya. Masih disuruh-suruh atau tidak. Bahkan Nabi memerintahkan untuk memukul dengan pukulan pendidikan. Jika sholatnya baik, yang lainnya akan baik. Dan perjelas status dia laki-laki atau perempuan. Pisahkan tempat tidur mereka. Apalagi dengan orang lain.

✅ Usia 10 tahun seharusnya sudah tidak boleh cium tangan dengan gurunya. Sebaiknya pendidikan dipisah mulai usia 10 tahun. Pelanggaran di tahap ini akan buruk di usia berikutnya.

✅ Tanamkan ilmu agama terlebih dahulu. Bukan ilmu umum dulu. Bacakan ayat-ayat Al Qur’an. Sucikan hati mereka. Ajari ilmu tafsir dan ilmu hadits Nabi. Sesuai dengan QS. Al Jumu’ah: 2. Lalu kemana ilmu eksak? Itu nanti. Ada di dalam QS. Al Baqoroh.

✅ Fase rusyda. Usia baligh. Bicara masalah harta. QS. An-nisaa’: 5 dan 6. Kemampuan menyimpan dan mengembangkan uang dengan baik, dll.

✅ Kemudian kurma itu dari berwarna merah menjadi ruthob. Warnanya coklat. Rasanya manis sekali. Pada saat inilah anak akan berperilaku baik dengan sendirinya karena telah ditanamkan nilai-nilai kebaikan pada fase-fase sebelumnya.

✅ Semoga kelak anak kita menjadi anak yang sholih dan sholihah. Aamiin.

JANGAN LELAH JADI IBU

Image result for ibu

 

….” Banyak sumber kekuatan, namun satupun tidak ada yang bisa menandingi keikhlasan….”

============================

“Ini kerjaan kok ga beres2…”

“Tiap hari kok kaya gini terus…”

“Butuh libur, butuh piknik, butuh me-time, butuh rehat sejenaaak saja…”

“Kalo boleh lari pengen lari aja deh rasanya…”

“Seandainya ada tombol PAUSE untuk semua ini

Pekerjaan rutinitas seorang Ibu nampak seakan sia-sia dan berulang.

Begitu terus setiap hari. Tidak ada habisnya.

Masih ingat kisah Siti Hajar?
Ibunda Nabi Ismail ‘alayhi salam ini berlari bolak balik dari Shofa ke Marwah sampai 7 kali. Berharap di padang gurun yang gersang itu barangkali ada air untuk bayinya yang sedang haus.

Ketemukah airnya? Tidak.

Tetapi lari-larinya Hajar yang “sia-sia” itu ternyata menjadi asbab ridhoNya Allah sehingga memancarlah air zamzam yang sampai sekarang tak pernah surut justru dari jejakan kaki bayi Ismail.

Sia-siakah yang dilakukan sang Ibu? Tidak sama sekali ternyata.

Pekerjaan keIBUan: menyusui, memandikan, ganti popok, menyuapi, and so on.. Memasak, menyapu, mengepel, mencuci, and so on buat yang ga ada ART..
Semua tetek bengek itu seakan terlihat tidak gemerlap, tidak keren, tidak ngeksis. Seakan sia2, ga ada hasil. Tapi yang berlelah2 itu, bisa jadi asbab ridho Allah…

Bisa jadi yg mengantarkan kita ke Jannah…

Tidak terlihat mulia dihadapan penduduk bumi tetapi bisa jadi membahana seantero ‘penduduk langit’. Bukankah itu yang lebih penting?

Bukankah doa ibunda mustajab tanpa penghalang ke Allah?

Maka setiap pekerjaan keIBUan itu bisa jadi dzikrullah & doa.

Semoga setiap tetes susu yang mengalir ke bayi ini mengalir pula kesholihan..

Semoga yang memakai baju2 yg kucuci ini selalu menjaga kehormatannya…

Semoga yang memakan hidangan ini diberiNya kesehatan…

Semoga setiap suapan nasi ini menjadikannya anak sholeh yang kuat…

Maka..
Mari buat malaikat Raqib sibuk luar biasa mencatat kebaikan2 yang kita upayakan.
Allah sebaik2nya pemberi balasan.
Wallahu’alam.

kontak admin

islamic.he.indonesia@gmail.com
atau
WA 081-561-828-93

Boneka Unik Dari Kertas

Rekan Kami

Promosikan Produk Anda !!!

Di Cari Distributor Seluruh Indonesia

Statistik Blog

  • 197,844 hits